Jun
28
3 Mimpi
June 28, 2008 | | Leave a Comment
Malam ini saya mimpi naik pesawat ruang angkasa. Beberapa menit setelah benar-benar sadar, saya lantas meraih handphone untuk melihat waktu. Pukul 01.29.
Tak banyak detil yang kuingat dalam mimpi itu, kecuali keberangkatan
dan bagaimana menyalakan tombol-tombol yang seperti garis-garis
memanjang lurus dan berpedar, garis-garis yang meninggalkan warna-warna
biru tua mirip hologram. Aku tidak tahu tujuan penerbangan itu, selain
melesat ke angkasa bersama seorang pilot lelaki yang samar-samar saya
kenal, tapi entah siapa. Ajaib sekali. Tanpa pengetahuan, tanpa
penejelasan, tahu-tahu saya telah menjadi seorang akasawan.
Di akhir cerita, sebelum terjaga, saya teringat ada Nur Iskandar dalam
sebuah percakapan setelah kami pulang dari perbangan yang konon
dilakukan seminggu—tapi saya sendiri tak ingat apa-apa karena waktu
serasa hilang saat itu—dia mengatakan tak dapat menghubungi kami. Saya
bilang, memang ada gangguan komunikasi, dan tak dapat diperbaiki selama
penerbangan.
“Jangankan komunikasi ke bumi, ke ruang paling bawah pesawat saja,
jaringan terputus,” kata saya. Saat berbicara, sepertinya saya tengah
berdiri di salah satu sayap pesawat, yang sedang dicheck para mekanik.
Sambil melangkah ke luar kamar tidur, saya memikirkan mimpi ini. Entah
apa maknanya. Bahkan saat masuk ke toilet untuk pipis, bayangan pesawat
luar angkasa di benak saya itu masih membekas.
Sepanjang hidup, hanya ada 3 mimpi aneh yang pernah saya alami. Pertama
mimpi melihat bidadari warna emas turun dari langit. Itu semasa saya
masih kuliah dulu, sekitar tahun 1997. Yang ke dua mimpi dirasuki nanga
hijau dan naga emas, akhir tahun 1999, dan yang terakhir adalah mimpi
naik pesawat ruang angkasa ini. Saya meneguk segelas air minum, untuk
benar-benar meyakinkan saya masih di waktu bumi. Kemudian masih dengan
perasaan penasaran saya menyambar laptop dan menuliskan ingatan ini.
Entah apa guna dan maknanya. Tapi karena tak tahu apa yang mesti dilakukan, saya pun menuliskannya untuk sekadar mengingat.
Saya tidak tahu apakah sebuah mimpi memiliki arti. Bahkan kedua mimpi
saya yang pertama saja, hingga hari ini tak diketahui apa maknanya.
Oke, baiklah. Tak payah dipikirkan. Saya mengalihkan perhatian ke
tumpukan buku dan majalah di samping tempat tidur yang belum sempat
dibaca. Buku Asia Future Shock, karya Mickhael Backman dan satu lagi photo copy buku Global and Its Discontents karya
Joseph E Stiglitz, menindih majalah SWA No 11/XXIV/29 Mei-11 Juni 2008,
tentang Blueprint Indonesia er.2.0. Yaitu prediksi mengenai Indonenesia
2030. Konon menurut majalah itu PDRB penduduk Indonesia (Andreas Harsono sering
menyebutnya Indopahit) meningkat menjadi US 5, 13 triliun. Ini
membawanya masuk ke 10 besar tujuan wisaata internasional dan 30 negeri
terbaik di bidang pembangunan SDM. Dituliskan juga, sedikitnya terdapat
30 perusahaan asal Indonesia bakal masuk dalam daftar Fortune
500. Artinya Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi dunia nomor 5 di
dunia, setelah Cina, AS, Uni Eropa dan India. Waw, Benarkah!?
Atau itu hanya sekadar mimpi saja? Seperti mimpi-mimpi saya tadi. Mimpi aneh yang penuh teka teki.
Paling bawah adalah majalah business review, Edisi 02/Tahun 2007/Mei
2008. Saya hanya membaca judulnya saja, Kebangkitan Agrobisnis
Indonesia. Puiiih! Kepala saya sakit untuk sekadar meyakinkan diri
tentang ini semua. Apalagi di cover
majalah itu ada wajah presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di
dampingi Ani SBY, Aburizal Bakriee dan seorang mentri, yang entah
siapa. Otak saya menolak mengingatnya.
Tadi siang buku-buku dan majalah tadi saya boyong dari kamar Rev FR
Johenes Robini Mariannto, O.P di seminari tinggi Interdiosesan, jalan
28 Oktober.
Robini adalah Vice Director PUKAT UIN. Yaitu Center for studies of East
Asia Area, State Islamic University (UIN) “Syarif Hidayatllah” Jakarta.
Di Pontianak saya hanya mengenalnya sebagai pastor dan direktur Central
for Research and Inter-Religious Dialogue (CRID). Kami bertemu saat dia
sedang risau karena laptopnya dihajar virus. Sekarang sudah di-install ulang.
Beberapa program harus di setting lagi, terutama untuk akses internet. Berkali-kali dia menghubungi petugas speedy. Hingga kami pulang makan siang, sang petugas belum juga nongol.
Di luar kamar, suara burung malam terdengar sayup. Anjing sesekali menggonggong di kejauhan. Saya dapat mendengar dengan jelas tak-tik-tok
jarum jam dinding di ruang tengah rumah. Setelah mengetik sekitar 588
kata, ternyata saya belum menemukan judul yang tepat untuk catatan ini.
Dan celakanya saya belum berhenti mengetik. Tampaknya saya harus
membaca untuk mengundang kantuk. Jika tidak, saya akan tersiksa dan
terus melek hingga pagi kelak.
Jun
28
Indonesia: Panas, Pedas dan Dangdut
June 28, 2008 | | Leave a Comment
by A. Alexander Mering
Suatu sore, seekor tikus berteriak-teriak panik.
Dengan wajah pucat ia melompat ke kandang ayam.
“Yam…, ayam, tolong saya. Itu…itu Nyonya rumah, majikan kita memasang perangkap
tikus di rumahnya?”
“Apa masalah mu hah?’ kata ayam yang sudah mulai
mengantuk.
“Perangkap tikus!” kata si tikus geram, karena
temannya itu memang agak bolot.
“O…, itu masalah mu kawan, bukan masalahku, sebab aku sekor ayam,” kata sang ayam cuek.
Sang tikus kecewa. Dengan gontai dia menuju
kandang kambing.
“Mbing..helpme please…”
“Mbeeekk…what your problem Brur?”
“Nyonya majikan kita memasang perangkap di rumah,
saya akan mati…,” kata sang tikus memelas. Sang kambing malah tertawa.
“Mbekekekek!!! Itu perangkap tikus kan Brur? Bukan
perangkap kambing?” ujarnya sambil mengejek.
Walau
kecewa, tapi sang tikus belum putus asa. Ia berjalan ke kandang
sapi. Ini adalah mahluk paling besar di perternakan. “Mungkin dia ada solusi,”
pikir tikus.
“Pi, kamu adalah yang paling besar di antara kita
di sini, saya benar-benar membutuhkan pertolonganmu.…,” kata sang tikus meregek.
“Apa yang bisa saya bantu brother?”
“Nyonya majikan kita memasang perangkap tikus,
saya tak dapat makan. Saya akan mati…,” ujar Tikus dengan air mata yang mulai
tergenang.
Seperti ayam kambing, sapi jantan itu pun malah tertawa
sekeras-kerasnya.
“Wakakkak, brother…brother…, kamu ini bodoh sekali? Itu kan prangkap tikus, bukan
masalah kami. Sudahlah, pulang saja. Jika tak ada makanan, datang saja ke sini,
kita makan rumput saja.”
Dengan hati teriris, tikus pulang ke rumah. Tak
satu pun yang prihatin, apakan lagi membantu. Padahal mereka sama-sama bangsa
binatang. Tikus merasa dirinya akan mati. Malam itu ia terpaksa puasa dan
tertidur di emperan, dekat dapur sambil memandang kue yang dipasang sebagai
umpan di perangkap bergerigi, di bawah meja makan.
Di pagi-pagi buta, Nyonya rumah berteriak
kesakitan. Kakinya kena hantam gerigi perangkap. Senjata tuan makan tuan, dia
lupa perangkap tersebut di bawah meja makan. Saat membawakan sarapan untuk
suaminya, kakinya masuk perangkap dan terluka.
Sorenya sang Nyonya langsung demam dan tak mau
makan, walau sang suami membujuknya berkali-kali.
“Baiklah, saya akan potongkan ayam agar kamu mau makan ya,” kata
suaminya. Dia pun menangkap ayam di kandang dan memotongnya. Tetapi sang nyonya
tak juga mau makan, karena sakitnya makin parah Sang Nyonya dibawa ke rumah
sakit. Karena kekurangan uang untuk biaya perawatan, suami memerintahkan
pembantunya menjual kambing mereka ke tempat pemotongan hewan. Walau demikian,
malang tak bisa ditolak, untung tak dapat diraih. Sang Nyonya yang terkena
tetanus parah nasibnya tak dapat ditolong.
Dengan perasaan duka luarbiasa sang Suami membawa
pulang jasad sang istri dan Menguburkannya. Karena tamu dan kolega banyak
sekali datang untuk melayat, sementara persediaan menipis, lelaki itu memerintahkan
orang memotong sapinya untuk memberi tetamu makan. Maka sapi pun disembelih.
***
Di teras rumah, cuaca sedang tidak ramah. Walau di
atas kampung langit sedang mendung, tapi udara terasa sangat gerah. Keringat
gugur, menteror perasaan para peserta yang sedang berkumpul di sebuah rumah
besar di Marhaban.
Kami sedang makan siang
ketika mendadak dua buah speaker mendadak menyalak. Beberapa peserta kaget,
karena volume VCD yang dipakai memutar musik itu terlalu keras. Lagu kucing
garong pun medesah-desah, membuat darah tercekat.
Selera makanku langsung
kendor. Ditambah hidangan hari pertama kedatangan kami, 23 Mei itu, ayam
goreng, lalap kacang panjang dan sambal. Aku sudah lama berhenti makan daging, jadi
hanya makan kacang panjang dan sambal yang pedasnya a’uzubillah. Lidah rasa
dikerat-kerat. Bukan salah yang membuat sambal, tapi aku yang tak kuat. Sebab menurut Yohanes Supriyadi, sambalnya sangat enak. Kami
menyapanya Yadi saja, dia salah seorang fasilitator kegiatan ini, bersama aku
dan Purbertus Ipur. Bahkan Yadi memuji keahlian wanita Madura Marhaban membuat
sambal.
“Weleh-weleh…bagi saya,
yang namanya sambal ya pedas!”
Saat itu saya benar-benar
merasa tersiksa, cuaca panas, pedas dan dangdut!
“Tak, ini beda.
Ulekannya sempurna.”
Yadi menyampaikan
argumennya.
“Ya, ini sambal enak
sekali,” timpal Anika.
Anika orang Jerman yang
turut nebeng dalam kegiatan kami. Dia
antropolog yang sedang meneliti diskursus konflik etnik di Kalimantan Barat.
Anika memang terbiasa
dengan makanan Indonesia. Di Kampung Bolat, Kecamatan Menjalin Kabupaten Landak
saja dia sudah 9 bulan menetap. Jadi saya enggan berdebat dengannya soal
sambal.
Sambil nangkring di
teras depan sementara piring nasi di tangan, kami kemudian bicara soal
Indonesia dan keberagaman.
“Bagi saya, Indonesia
tak ubahnya dengan keadaan yang kita alami di sini”.
“Apa itu?”
“Indonesia adalah panas,
pedas dan dangdut.’
Anika mengernyitkan
keningnya. Yadi mengangkat pantat, beranjak ke dalam mencedok sambal sekali
lagi. Anika sebenarnya menambahkan satu kriteria lagi soal ini, Kopi!. Ah,
terserahlah. Tapi bagi saya Indonesia, sebenarnya sangat kaya. Tapi sayang
salah urus!
***
Kampung Marhaban, adalah
bagian dari Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan. Letaknya hanya
sekitar 15 kilo meter dari kota Singkawang. Jika di kota Singkawang di dominasi
warga keturunan Tionghoa, sehingga kerab digelar kota Amoy, Marhaban pula
sebagian besar dihuni warga Madura. Dulu tempat ini adalah lokasi pengungisian
warga Madura, menyusul peristiwa kerusuhan etnik Dayak-Madura di Samalantan,
Bengkayang tahun 1997. Sejak itu Kampung Marhaban terus berkembang dan
diperkirakan jumlah penduduknya kini sudah mencapai 900 Kepala Keluarga (KK). Ada
9 RT yang warganya 100 persen Madura, jumlahnya diperkirakan sektiar 800 jiwa.
Rumah Haji Mathori Abu bakar, tempat kami menginap dan mengadakan kegiatan terletak
di RT 55. Mathori adalah tokoh Madura setempat yang pernah 2 kali merantau ke
Arab Saudi. Bahkan salah seorang anak perempuannya masih bekerja di sana.
Jumlah rombongan kami
sekitar 30 orang, perwakilan dari 14 kampung dari beberapa kabupaten yang
menjadi wilayah kerja Yayasan Pangingu Binua (YPB), penyelenggara kegiatan tersebut.
Ada perempuan Melayu dari Selakau, Madura Marhaban, Dayak Kecamatan menjalin
dan lain-lain. Tetapi peserta lelaki lebih banyak. Tujuannya adalah mempersiapkan
kader atau agen perdamaian bagi sub suku di kampungnya masing-masing. Orang-orang Non Government
Organization (NGO) kerap menyebutnya Community Organizser (CO). Saya tak ingat
satu per satu asal kampung mereka. Tapi saya cukup terkesan dengan
kerja YPB yang gigih mengajak kaum muda dari kampung-kampung tersebut mau
bekerja secara sukarela untuk resulusi konflik. Mengingat ke tiga suku ini
sering berkelahi. Yang terakhir adalah konflik berdarah Madura-Melayu, di
Sambas tahun 1999. (bersambung)

